SIGMA Series 5: Sistem Resi Gudang Menjadi Solusi Pembiayaan Berbasis Komoditas

Sistem Resi Gudang Menjadi Solusi Pembiayaan Berbasis Komoditas

PT CUAN mengakselerasi pembiayaan komoditas melalui 22 gudang berbasis SRG di Probolinggo. Skema ini membuka akses pembiayaan berbasis aset, mengoptimalkan likuiditas, dan memperkuat posisi petani dalam rantai nilai.

*Penyebutan nama perusahaan dalam dokumen/penjelasan ini semata-mata digunakan sebagai contoh studi kasus dan tidak dimaksudkan untuk tujuan lain.

Sorotan Sigma

Sistem Resi Gudang (SRG) menjadi solusi yang menguntungkan terutama bagi petani. Hal itu dikarenakan petani dapat menjadikan Resi Gudang (RG) untuk mengajukan pinjaman ke perbankan. PT Cipta Usaha Agro Niaga (PT CUAN) merupakan perusahaan yang berperan sebagai pengelola gudang yang sudah menerapkan SRG. PT CUAN sudah memiliki kapasitas operasional yang kuat karena telah mengelola 22 gudang. PT CUAN juga mendapatkan dukungan trucking dari Kliring Perdagangan Berjangka Indonesia (KPBI) untuk memperlancar logistik agar lebih efisien.

Manfaat SRG dirasakan di seluruh rantai pasok karena memperkuat akses pembiayaan sekaligus menata tata niaga agar lebih tertib dan efisien. Bagi petani, SRG memungkinkan tunda jual, menjaga mutu, membuka nilai tambah, dan memperluas akses pasar. Bagi lembaga keuangan, SRG menyediakan agunan komoditas yang terukur dan terlindungi sehingga lebih terpercaya. Bagi pengelola gudang, SRG menambah pendapatan jasa dan memperkuat manajemen stok. Bagi offtaker, SRG menjamin kualitas atau kuantitas serta membuat pasokan dan cash flow lebih stabil.

Agar SRG berkelanjutan, dibutuhkan ekosistem yang benar-benar berjalan seperti dukungan dan fasilitasi pemerintah, sinergi antar-lembaga, pengelola gudang yang profesional, ketersediaan infrastruktur dari hulu ke hilir, serta kepastian pasar melalui offtaker atau captive market agar komoditas tidak mengendap. Dalam kerangka Sigma Strategi, pengembangan SRG dilakukan secara bertahap mulai dari penguatan fondasi dan kelembagaan (legalitas, SOP, SDM, dan sistem penyimpanan), dilanjutkan dengan pilot project operasional dan penguatan digitalisasi untuk menghasilkan transaksi awal serta integrasi data. Tahap berikutnya menekankan integrasi ekosistem melalui kemitraan pembiayaan, uji mutu, registrasi, dan akses pasar, kemudian diperluas melalui ekspansi jaringan dan penciptaan nilai tambah. Selanjutnya, SRG diperkuat melalui inovasi berkelanjutan termasuk standardisasi, penerapan green logistics, dan platform digital yang terintegrasi. Hingga pada akhirnya mencapai integrasi menyeluruh dalam ekosistem industri nasional dengan dukungan teknologi baru dan evaluasi berkala.